Solusi Penanganan Sampah dari Bank Sampah Delima di Pasar Minggu

Cuaca Ibu Kota panas terik dan gerah. Namun hawa berbeda terasa ketika Kompas.com melangkahkan kaki ke rumah Yati di Jalan Pagujaten, Pasar Minggu. Tugi, panggilan akrabnya, adalah “General Manager” dari Bank Sampah Delima. Di permukiman padat penduduk, yang terletak di belakang Stasiun Pasar Minggu ini, bank sampah Yati menjadi solusi pembuangan sampah yang masih menjadi masalah di Jakarta. “Dulu sampah kami harus bayar dan menumpuk itu di TPS Pasar Minggu. Sekarang jauh berkurang sampah kami,” kata Yati. Yang dilakukan Yati dan puluhan rumah lainnya di RW 07 Pejaten Timur ini sebenarnya sederhana.

Tiap rumah tangga diminta mengumpulkan sampahnya. Sampah kemasan plastik dipisahkan dari sampah lainnya. Kemasan plastik bisa diolah menjadi suvenir seperti tas maupun hiasan. Adapun sampah botol biasa dijual ke pengepul. Seminggu, sampah botol plastik dari warga bisa menghasilkan hingga Rp 500.000 bagi warga. “Warga punya tabungan sampah, jadi hasil pembuangan sampahnya dia nanti masuk ke kasnya dia,” kata Yati. Baca: Jakarta Didorong Miliki Bank Sampah di Tiap RW Tampat pengolahan sampah organik menjadi pupuk kompos di Bank Sampah Delima, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Anak-anak kecil, kata Yati, bahkan sudah paham bahwa setelah jajan, sampah mereka disimpan untuk diubah menjadi pundi-pundi rupiah. Lalu untuk sampah basar, Yati mengolahnya dengan menanam di pot agar bisa menjadi pupuk kompos. Hasilnya? Gang-gang sempit di Jalan Pagujaten terasa adem dipenuhi tanaman dan pepohonan hijau. “Kami juga tanam cabe dan sawi hidroponik,” kata Yati. Keterbatasan lahan di permukiman padat ini memang membuat bank sampah tak optimal. Sampah yang ditabung warga, harus disimpan di teras hingga dalam rumahnya.

Begitu pula pengolahan kompos, tidak bisa dilakukan di lubang sampah organik karena mayoritas warga tak punya pekarangan. Permukiman Pagujaten, RW 07 Pejaten Timur, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.(KOMPAS.com/NIBRAS NADA NAILUFAR) Prestasi Dengan segala keterbatasan ini, Bank Sampah Delima menjadi tempat belajar dari berbagai kalangan seperti warga luar daerah, mahasiswa asal Amerika Serikat, dan peneliti. Tak tanggung-tanggung, Bank Sampah Delima yang bermarkas di rumah Yati ini menjadi juara pekerja sosial masyarakat (PSM) tingkat nasional yang diadakan Kementerian Sosial pada 2015.

Bank Sampah Delima mengalahkan ratusan komunitas warga lainnya di Indonesia atas inovasi di tengah keterbatasan. “Karena sudah juara, kami enggak ikut lagi, sekarang mendorong tetangga dari Pejaten Barat untuk bisa mewakili Jakarta lagi,” kata Yati. Baca: Pinjam Uang di Bank Sampah, Mencicilnya Pakai Sampah Sejumlah ibu rumah tangga di Kelurahan Layang, Kecamatan Bontoala, Makassar, kini punya pekerjaan sampingan, yaitu mengumpulkan barang bekas atau sampah plastik yang berada di sekitar rumahnya untuk dibersihkan dan dikumpulkan di kantor kelurahan.

Bukan tanpa alasan, sejumlah ibu rumah tangga ini mengumpulkan sampah plastik demi mendapatkan beras gratis dari pemerintah setempat. Salah satunya Dahlia. Setiap Minggu, Dahlia mampu menyetor sampah plastik hingga 10 kilogram dan bisa ditukar dengan beras sebanyak 2 liter. Bank sampah ini tidak hanya menyediakan beras. Beberapa keuntungan lain yang didapat dengan menukarkan sampah plastik pun ditawarkan. Warga boleh memilih paket apapun yang disediakan. Dari infromasi yang didapatkan, bank sampah di Kota Makassar mampu mengolah limbah ini dan menghasilkan omzet hingga jutaan rupiah. Omzet ini diperoleh dari pengelolaan limbah menjadi barang daur ulang yang memiliki nilai jual. Program ini diharapkan mampu untuk mengajak warga mulai peduli untuk hidup sehat dan berperilaku bersih.

SUMBER

Tinggalkan komentar