Seputar Sampah

Peluang Usaha Baru 2019, Mendulang Rupiah dengan Budidaya Larva Ulat Memanfaatkan Sampah

Di kota-kota besar maupun di pedesaan di seluruh Indonesia, sampah kerap menjadi masalah. Tingginya akumulasi sampah membuat lingkungan menjadi kotor dan tidak sehat, belum lagi bencana banjir dan efek rumah kaca sebagai polusi dari sampah tersebut. Dari sinilah, timbul pemikiran bagaimana cara menghasilkan uang dari sampah menjadi sesuatu yang bermanfaat.

Kesan sampah sebagai biang masalah tinggal sejarah.

Di Kecamatan Kalidoni Kota Palembang yang selalu kedatangan sampah 3 ton sehari, malah mampu menjadi nilai tambah. Hal ini dibuktikan dengan digunakannya bayi larva Black Soldier Fly (BSF) untuk mereduksi sampah organik yang sudah dimulai sejak awal tahun 2018.

“Larva usia lima hari diberi makan sampah organik. Sedangkan larva dewasanya bisa jadi pakan ternak seperti ayam, itik, ikan lele, dan ikan nila,” jelas Ketua Bakorwil Sentra Usaha Tani dan Agribisnis (Suta Nusantara) Sumsel Arie Wijaya, Selasa (1/1/2018).

Mesin Pencacah Sayur Buah untuk Pakan BSF

 

Dijelaskannya, harga larva “ulat” tersebut cukup tinggi, dipasaran harganya bisa mencapai Rp 100 ribu hingga Rp 300 ribu per kg. Selain itu juga, Dalam jangka waktu 12 hari, 10 ribu ekor bayi larva seberat 20 gram mampu menghabiskan sekitar 12 kilogram sampah organik.  Selain sampah dapur dan sisa makanan, daun serta ranting juga menjadi isi sampah organik. Daun dan ranting yang telah dipilah diproses menjadi pupuk dan didistribusikan ke taman-taman di Kecamatan Kalidoni.

Proses diversifikasi dalam pengelolaan sampah menurut Camat Kalidoni ini, sudah menjadi cara yang tepat, bahkan harus lebih disosialisasikan ke masyarakat. Setidaknya sampah bisa dikomposkan, serta diredukasi menggunakan larva atau cacing di Instalasi pengelolaaan sampah 3R (Resuce, reduce, recycling)+education-environment-enterpereneurship.

Bahkan pihaknya juga memiliki pengolahan plastik bening bekas, yang bisa menghasilkan premium, solar dan minyak tanah, dengan menggunakan mesin khusus “pirolisis” pembakaran plastik, dengan bahan bakar gas. Namun kedepan pihaknya akan menggunakan kompor listrik bertenaga listrik. “Dimana 1 kg sampah plastik itu, bisa menghasilkan 60 persen solar, minyak tanah 25 persen, dan 15 persen premium,” tandasnya. Dijelaskan Ari, awalnya idenya mengelolah sampah ini menjadi penghasilan, karena soal kebersihan dan jadi perhatian Walikota, dan jika dipikiran lama solusinya sementara armada yang ada banyak buruk dan sampah sudah menumpuk sehingga diolah. Dimana secara teoritis 80 persen bisa diolah karena organik.

“Kuncinya, kita jangan jadikan masyarakat pekerja sosial, karena puluhan tahun tidak berjalan sebab kecenderungan masyarakat nunggu bantuan saja. Tapi diajak berbisnis sehingga dia untung kita juga untung,” tandas Ari selaku pembina yang dibawah satker Kecamatan Kalidoni.

Kini berkat pengolahan sampah itu yang dihasilka, pupuk cair dan padat (30 karung), plastik caca untuk bahan baku plastik, bbm dari plastik, ulat, gas metan, produk turunannya tanaman buah dalam pot, tanaman sayur dalam pot dan sebagainya.

Dimana terdapat 4 masyarakat yang berkerja secara profesional, dua pemilah, 1 ķepala instalasi dan 1 operasional mesin, dengan dikomandou Direktut bank sampah Mustaqim. “Mengenai dana, sebagian besar dana pribadi dulu dan baru bantuan pusri sedikit. Kita membangun ini biar ada bisnis mengelolah sampah, dan bisa menjadi nilai jual secara ekonomis dari sampah,” pungkasnya.

SUMBER