Seputar Sampah

63 Persen Lautan Indonesia Tercemar Sampah Plastik

Komunitas Divers Clean Action (DCA) merilis temuan bahwa 63 persen sampah di lautan Indonesia berupa sampah plastik sekali pakai. Sampah ini sulit didaur ulang karena prosesnya lama dan harga yang rendah di tingkat pengepul.
Penggagas DCA, Sweitenia Puspa Lestari, menuturkan komunitasnya rutin membersihkan sampah di lautan dan menemukan banyak pencemaran. Menurut dia, temuan 63 persen sampah plastik ini hasil dari bersih-bersih laut di Indonesia.
“Ketika terumbu karang itu mati, maka ikan juga akan turut mati. Jadi kami dari segi penyelam sangat sedih dan tidak ingin laut menjadi lautan sampah,” kata Sweitenia Puspa Lestari kepada wartawan banjarhits.id, Reska Meiliyanti ketika presrilis tagar #nostrawmovement di KFC Jalan Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Senin (18/2/2019).

Baca juga : Mesin Pengolah Sampah Plastik

Menurut dia, sampah plastik dapat mengambang di laut dan terdampar di pantai yang berpotensi mencelakai ekosistem dan biota laut. Apalagi, kata Tenia, sampah plastik yang menutupi terumbu karang selama empat hari dapat mematikan terumbu karang karena minim asupan cahaya matahari.
Itu sebabnya, Tenia mendukung upaya KFC mereduksi sampah sedotan plastik karena turut menjaga lingkungan. Dibentuk sejak 2015, DCA punya 2.000-an volunteer di seluruh Indonesia dan Asia Tenggara.
“Melihat fakta bahwa ada penyu yang berdarah akibat tertusuk oleh sampah sedotan hingga memerlukan tenaga ahli dalam penyelamatannya, sampah bisa mencelakai hewan laut,” ucap Tenia.
Adapun General Manager Marketing PT Fast Food Indonesia sebagai pemegang lisensi KFC, Hendra Yuniarto, menuturkan semua gerai KFC se-Indonesia telah mengurangi pemakaian sedotan plastik dari 100 persen ke 9 persen. Sedotan cuma dipakai konsumen khusus, seperti anak-anak dan kaum difabel.
Selain itu, KFC turut melakukan diet plastik. KFC mengganti penggunaan piring keramik dengan piring kertas yang diklaim lebih ramah lingkungan. Dari penelitian, Hendra berkata bahan pencuci piring dari minyak sangat berbahaya karena mematikan lapisan atas tanah.
Alhasil, KFC menggantinya dengan piring kertas. Adapun untuk menekan sampah kertas, kata Hendra, KFC menggandeng armada kemasan dalam pengelolaan sampah. Partner KFC ini bertugas mengolah sampah kertas menjadi pupuk organik dan kertas lembaran siap pakai.
“Jadi dalam 6 bulan ini kami cobakan di Jakarta, nanti kalau sukses kami akan teruskan ke seluruh daerah di Indonesia,” ucap Hendra.

GM PT Fast Food Indonesia, Hendra Yuniarto (kiri) ketika presrilis gerakan tagar #nostrawmovement di KFC Jalan Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Senin (18/2). Foto: Reska M/banjarhits.id

Gerai Kentucky Fried Chicken (KFC) terus menggencarkan gerakan tagar #nostrawmovement alias anti sedotan sekali pakai di semua gerai makanan cepat saji itu. Hal ini bentuk komitmen KFC terhadap lingkungan hidup dan mengajak konsumennya berbudaya beberes alias cepat beres-beres.
Hendra Yuniarto, General Manager Marketing PT Fast Food Indonesia selaku pemegang hak eksklusif restoran KFC Indonesia, mengklaim pihaknya sukses menurunkan pemakaian sedotan di semua gerai KFC se-Indonesia dari 100 persen menjadi 9 persen perbulannya.
Hendra tetap menyiapkan sedotan untuk konsumen tertentu. “Jadi 9 persen ini kami komitmenkan hanya untuk anak-anak dan konsumen kami yang memiliki kebutuhan khusus,” ungkap Hendra Yuniarto kepada banjarhits.id, Reska Meiliyanti ketika presrilis #nostrawmovement di gerai KFC Kantor Pos, Jalan Lambung Mangkurat, Banjarmasin pada Senin (18/2/2019).
Menurut dia, gerakan tagar #nostrawmovement dimulai sejak 2017 untuk enam gerai KFC di Jakarta, sebelum digencarkan se-Indonesia pada 2018. Hendra berkata gerai KFC di Banjarmasin dan Banjarbaru sudah tidak menyediakan sedotan, kecuali untuk jenis minuman tertentu seperti float dan konsumen khusus.
Pihaknya sengaja tetap menyiapkan sedotan karena ada konsumen kesulitan ketika minum tanpa sedotan, terutama difabel dan anak-anak.
“Banyak ibu-ibu yang memiliki anak masih kecil kesulitan memberi minum. Jadi kalau minta di kasir, masih kami beri sedotannya. Selain itu kami tidak membatasi untuk konsumen berkebutuhan khusus memakai sedotan,” Hendra melanjutkan.

SUMBER